Review Singkat dari Film Avatar 2, Masih Worth It Ditonton?

Setelah rilis film pertamanya pada tahun 2009, James Cameron sebagai sutradara merilis film kedua dari seri Avatar dengan judul Avatar: The Way of Water. Ini adalah jawaban terbaik bagi para penggemar yang sudah lama menantikan dan penasaran. Keindahan Pandora sebagai latar utama masih menjadi daya tarik utama dari sekuel ini.

 

Dalam film kedua ini, cerita lebih fokus pada karakter Jake Sully yang sekarang sudah memiliki keluarga setelah dia menetap di antara kaum Na’vi. Namun, kehidupan damai ini terganggu setelah manusia dari Bumi kembali ke Pandora setelah mengalami kekalahan dalam film pertama.

 

Kembalinya manusia ke planet tersebut juga memicu perang kembali antara bangsa Na’vi yang dipimpin oleh Jack Sully dan bangsa manusia yang dipimpin oleh avatar yang DNA-nya diambil dari musuh Jack, yaitu Miles Quarich yang dibunuh oleh istri Jack Sully. Quarich dalam bentuk avatar-nya sadar mengenai penyebab kematiannya dalam film pertama dan ingin membalas dendam pada Jack Sully dan keluarganya.

 

Hal inilah yang membuat Jack dan keluarganya pergi ke suku air untuk melindungi suku hutan dari perang.

Terinspirasi Suku Air Indonesia

Film kedua Avatar memperkenalkan suku baru dari bangsa Na’vi, yaitu suku air. Dalam film ini, kita akan diperkenalkan pada keindahan yang luar biasa dari daerah suku air. James Cameron, sutradara film Avatar, dalam sebuah wawancara dengan National Geographic menjelaskan bahwa dia melakukan riset terhadap budaya yang berhubungan dengan lautan dalam proses pembuatan budaya dan lingkungan dari suku air dalam film ini. 

 

Cameron juga menyebutkan bahwa salah satu inspirasinya untuk film ini adalah suku di Indonesia yang hidup di atas rakit dan tinggal di rumah panggung. Melalui risetnya, dia sangat terkesan dengan budaya dan lingkungan yang ada di suku tersebut, dan ingin mengambil beberapa elemen dari budaya tersebut dalam pembuatan film ini. Hal ini diharapkan dapat memberikan kesan yang lebih autentik dan nyata bagi penonton.

Kelebihan Film Avatar The Way of Water

Sekarang kita akan membahas tentang keunggulan yang terdapat dalam film Avatar The Way of Water. Pertama, tidak diragukan lagi adalah efek visual yang ditampilkan dalam film ini. Selama film berlangsung, kita dapat melihat efek visual dari CGI yang sangat memanjakan mata.

 

Hal ini sangat terlihat saat kebanyakan adegan berada di lingkungan suku air, di mana keindahan tersebut juga membantu penonton untuk lebih mengenal lingkungan suku air beserta binatang-binatang laut dan beberapa tumbuhan air.

Selain efek CGI yang luar biasa, musik atau scoring dalam film ini juga membantu film ini menjadi lebih berkesan dan membantu penonton untuk lebih merasakan suasana yang ada dalam film. Kelebihan lain dari film ini adalah kemampuan untuk menyampaikan ketegangan dan keseruan ketika adegan pertarungan sedang terjadi.

 

Film ini berhasil membuat penonton seperti menahan nafas ketika adegan menegangkan sedang terjadi dalam film. Kelebihan terakhir yang paling terasa dalam film ini adalah kemampuan untuk memperkenalkan dunia suku air dengan sangat baik, mulai dari perkenalan dari tokoh kunci yang ada dalam suku tersebut, binatang yang menjadi transportasi bagi suku air, hingga tumbuhan yang diagungkan oleh suku air. Semua ditunjukkan dengan baik dalam film ini.

Kekurangan Film Avatar The Way of Water

Kekurangan dalam film ini terletak pada peran antagonis yang tidak meninggalkan kesan yang kuat. Karakter antagonis ini mirip dengan yang ada di film Avatar pertama, sehingga tidak ada sesuatu yang spesial ketika peran tersebut muncul kembali dalam film kedua.

 

Seharusnya, latar belakang karakter Quarich dapat diterangkan lebih jelas agar penonton dapat merasa lebih terhubung dengan karakter tersebut. Selain itu, Quarich terlihat lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan Na’vi dibandingkan dengan Jack dan avatarnya di film pertama.

 

Karakter Quarich juga terlihat setengah-setengah di film kedua, beberapa kali seharusnya dia menjadi sosok yang jahat namun justru tidak ditunjukkan sehingga yang muncul adalah tokoh dengan karakter jahat yang setengah-setengah.

 

Kekurangan selanjutnya dari film Avatar adalah durasi yang terlalu panjang. Terdapat beberapa adegan di bagian akhir yang terasa tidak perlu dan hanya memperpanjang waktu, tidak penting bagi jalannya cerita.

 

Contohnya, adegan keluarga Sully yang tenggelam tanpa tujuan yang jelas dalam adegan yang cukup lama. Selain itu, di akhir film, suku air tidak terlihat sama sekali dan tidak ada usaha untuk menyelamatkan Sully ketika kapalnya tenggelam.

 

Secara keseluruhan, film kedua Avatar ini diharapkan dapat memberikan pengalaman yang berbeda dan menyegarkan bagi penonton, dengan mengenalkan suku baru yang belum pernah ditampilkan sebelumnya dan menyuguhkan keindahan alam yang luar biasa. Bagi kamu yang sudah menonton Avatar The Way of Water, bagaimana pendapat kamu tentang film Avatar terbaru ini?